Warung Ikhlas

Pada Ramadhan bulan lalu, saya berinisiatif mengikuti bazzar yang diadakan oleh kantor. Setiap orang yang ingin mengikuti Bazzar tersebut cukup membayar dua puluh lima ribu rupiah untuk sebuah spot berupa Meja. Entah kenapa saat itu saya berpikir untuk mencoba sesuatu yang baru dalam mencari sumbangan. Yaitu sebuah warung yang menjual barang-barang dengan harga ‘keikhlasan’ sang pembeli. Tentu saja saya tidak akan menderita kerugian karena satu2nya modal saya adalah uang 25 ribu rupiah dan sedikit tenaga. Barang dagangannya? Semua adalah sumbangan dari beberapa rekan kantor dimana sang penyumbang mendapat titel Sarjana Ikhlas. Mereka adalah Mbak Rini (Account Director Matari), Mbak Pia (HRD Matari), Jalu (AD Matari + yang ikut membantu menjadi Pengusaha Ikhlas) dan Mas Jaja (ECD matari).

Saya namakan usaha mencari sumbangan melalui berdagang ini: Warung Ikhlas. Sebuah warung yang menjual barang-barang dengan harga seikhlasnya. Pertanyaan pertama saat memikirkan konsep ini adalah; Bagaimana jika ada orang yang memanfaatkan kesempatan ini dengan memberikan penawaran yang sangat tidak pantas, alias murahnya-gak-masuk-akal-kok-tega-banget-ya? alias cari kesempatan? Demi terwujudnya niat menyumbang ini, saya pun mencoba memanfaatkan ilmu iklan saya. Tsaaaaaaahhhh!

Jawaban untuk pertanyaan di atas ternyata ada pada sebuah media sederhana: Daftar penyumbang.

Melalui penelitian bertahun-tahun oleh ratusan professor, terawangan ribuan paranormal dan pemikiran saya malam itu ditemukan bahwa; Gak ada orang yang mau memanfaatkan kesempatan kalo namanya dicatat. Jenius.

Disertai beberapa poin untuk menegakkan keadilan, maka pada saat Bazzar dibuka Warung Ikhlas pun resmi berjualan untuk umum, dan disinilah banyak pelajaran berharga yang saya dapat.

Ternyata teman-teman kantor saya semuanya baik-baik šŸ™‚ semuanya bisa menghargai barang yang dijual warung ikhlas dengan harga yang pantas. Alhamdulillah *terharu*

Ternyata OB, Supir dan satpam yang mungkin hanya bergaji sesuai UMR bisa memberikan harga yang pantas untuk barang-barang di warung ikhlas.

Hingga kasus yang saya khawatirkan pun terjadi.

Ada seorang pekerja yang saya yakin gajinya di atas OB, supir atau satpam, mungkin juga tingkat pendidikannya mencapai kuliah, menawar sebuah mainan yang saya jual dengan harga 500 rupiah! Mendengar harga yang ditawarkan, dan mengingat komitmen untuk menerima seikhlasnya harga yang ditawarkan atas barang apapun, saya hanya tersenyum dan berkata “Boleh mas, silakan. Ini 100% buat sumbangan bagi anak yatim”. Dia pun menaruh uang Rp 500 rupiah di meja dengan senyum bagai menang Untung Beliung. Tapi persis saat dia memegang mainan yang telah dibayarnya, saya berkata “Mas, ini daftar penyumbangnya. Silakan isi nama mas, nama barang yang dibeli serta harga yang mas bayarkan”.

Tebak apa yang terjadi begitu dia tahu bahwa namanya akan tertulis diantara teman-temannya, bahkan diantara OB, satpam dan supir, sebagai satu-satunya orang yang membeli mainan seharga 500 rupiah?

“Ko harus nulis nama sama harganya?” katanya dengan muka tampak pucat kaya abis ketipu.

“Namanya juga sumbangan mas” jawab saya gantian dengan senyum menang Untung Beliung yang sesungguhnya

“Wah ga jadi deh kalo gitu” Dengan muka merah padam, dia pun menaruh mainanĀ dan mengambil uang 500 rupiahnya kembali.

JREEENG! Senyum Menang Untung Beliung pun saya pertahankan. Lebar sekali sampai si mas itu hilang di kerumunan OB-OB, supir dan satpam yang siap membayar dengan harga yang ikhlas yang membawa berkah.

Akhirnya setelah Sore yang begitu ramai, Warung Ikhlas tutup warung dengan pendapatan mencapai lebih dari satu juta rupiah ditambah Hadiah dari panitia sebagai kios terbaik. Seluruh keuntungan + hadiah uang itu pun disumbangkan kepada panti asuhan Anak yatim.Ā Alhamdulillah.

Pelajaran terpenting yang saya dapat dari Project Warung ikhlas ini adalah bahwa, keunikan lewat kebebasan menentukan harga inilah yang menarik banyak orang untuk membeli. Keputusan memberikan harga ‘seikhlasnya’ ini juga selain karena saya tidak ingin menghargai suatu barang bekas terlalu murah atau mahal. Saya melihat potensi interaksi seseorang secara ekonomi terhadap barang, melalui nalarnya dalam menghargai suatu benda.

Keunikan lain yang saya temukan, ternyata beberapa barang yang saya taksir harganya mencapai 10 ribu ternyata dibayar seseorang sebesar 25 ribu. Sebuah jaket yang saya taksir seharga 35 ribu, dibayar 50 ribu. Saya menduga dari proses penghargaan inilah Warung Ikhlas bisa meraih sumbangan lebih dari yang saya targetkan.

Lalu bagaimana kabar mainan yang tadi dihargai 500 rupiah itu tadi? Pelajaran terpenting:Ā Allah memang Maha Adil. Saat akan tutup warung, mainan itu dibayar seseorang sebesar 5000 rupiah.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: