Love in an elevator

 

Bodhi telah 2 tahun ini bekerja di sebuah perusahan minyak terkenal dari inggris. Sebagai seseorang yang sering bergonta-ganti pekerjaan ia sadar, kerja keras adalah cara terbaik untuk memiliki karir yang bagus di dalam perusahaannya. Tapi apa yang ia percayai dan ia harus alami sangatlah berbeda. Dua tahun, dan ia masih menempati posisi awal di saat dia masuk, padahal sudah dua tahun ini ia bermimpi untuk dapat meminang gadis impiannya. Demi melancarkan mimpinya itu bahkan ia aktif belajar bahasa inggris, yang sering ia coba praktekkan ke teman-temannya.

Tapi ia bertekad mengakhiri semua itu hari ini. Saat kakinya menginjak lantai berkilap lobby gedung, hatinya sudah bulat untuk menemui sang boss besar pemimpin perusahaan dan meminta promosi kenaikan jabatan. Naik pangkat atau mati!

Dengan yakin ia melangkah tegak, setiap langkahnya bagaikan mengakar pada kepercayaan dirinya, tak tertinggal mata yang menatap tajam ke arah lift. Saat berjalan ia melambai pada satpam kurus berwajah kuyu yang sama sekali tidak memiliki tanda-tanda alami seorang satpam. “Hey man! How you’re doin today?” sapa Bodhi penuh gaya, yang ditanya tentu saja hanya memberi senyum terpaksa. Sekali, sempat ia melempar senyum kepada mbak resepsionis yang tersenyum bagai gulali bermandikan sirup stroberi. Manis dan lekat. “You’re sweet darlin” lagak bahasa inggris keluar dari mulut Bodhi saat ia berjalan mendekati lift.

Tapi itu baru introduksi…

Karena kini saat pintu lift terbuka, Bodhi terdiam melihat sesosok gadis berkulit putih dengan rambut lurus panjang dan hitam. Tidak seperti kebanyakan gadis berusia 24 tahunan lainnya yang kerap memasang poni, gadis ini menarik seluruh helai rambutnya dalam sebuah ikatan panjang ke belakang dan memperlihatkan kesempurnaan wajahnya. Cantik. Sekali. Sementara balutan setelan kerja yang melekat pas pada keindahan tubuhnya, sungguh berdedikasi untuk memaku lini misteri di mata pria yang memandangnya dari ujung kaki semampai hingga ke atas inci demi inci. Gadis ini begitu menarik.

Saat Bodhi melangkah masuk lift, ia pun menatap mata Bodhi. Sebuah meteor besar dari langit mata gadis itu menghantam keras permukaan padang gurun hati Bodhi. Sebuah kawah menganga lebar di jantungnya.

Lift mulai bergerak perlahan, seiring jantung Bodhi yang tiba-tiba berdetak cepat. Bukan karena cinta tapi karena ia merasakan sebuah besi dingin menempel di belakang lehernya. Dan suara sang gadis berkata “diam atau isi kepalamu akan berhamburan di dalam lift”. Bodhi membeku seiring suara kokang pistol di bagian tengkuknya itu. “Who… who are you?” tanya Bodhi. “Oh ngomong inggris? Okay, my name is Jeanie” jawab si gadis itu dengan bahasa inggris. Mungkin gadis ini satu-satunya orang yang mau meladeni gaya sok bahasa inggris Bodhi. “Why… why you put your gun on my head” tanya Bodhi lagi dengan suara ketakutan setengah mati. “because i’m a psycho” jawab Jeanie. “Wha… What is Psycho means?” ternyata Bodhi belum mempelajari arti kata ‘psycho’.

DOR! Suara ledakan peluru dari ujung pistol menembus otak Bodhi. Mengagumkan bagaimana sebutir peluru bisa begitu intensif membedah rongga otak manusia. Memisahkan sel demi sel dari fluktuasi sinyal kehidupan seseorang dalam sekali operasi kilat. Sebuah ikatan yang terjalin sepersekian milidetik telah menggetarkan jantung kehidupan Bodhi dan memutus benang takdir ke jantungnya. Hatinya terkubur oleh seorang gadis cantik menarik tiada tara. Seorang gadis yang mungkin pernah menginspirasi Tuhan untuk menciptakan magnet.

Melihat Dinding lift yang bercat darah, tidak ada penyesalan sedikitpun di mata Jeanie, ia tahu bahwa tindakannya  menembak Office boy ini akan menyampaikan pesannya kepada sang bos pemimpin perusahaan. Bahwa seorang gadis simpanan bisa menjadi psycho demi naik pangkat jadi istri pertama.

Advertisements

2 thoughts on “Love in an elevator

  1. win66ih says:

    Bagus tra, gue suka nih. Tulisan elo emang sebagus ini ya dari dulu? gue baru liat nih.
    Bikin buku dong 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: