There is a light that never goes out

Jakarta. 24.00

“Aku monumenmu”. Sepotong kalimat yang dibentuk dari susunan nafas terakhir Juan malam itu.

-23.55-
Mata Bodhi hanya terbelalak, terpana, pupil matanya mengecil, menciut susut hampir hilang, tapi tidak jiwanya. Tak pernah jiwanya terasa sebegitu hangat dan semegah malam ini. Bodhi dan pupil matanya menatap dalam jauh ke balik cahaya menyilaukan itu.
Bodhi melihat lampu sebuah bis begitu terang, dekat, di sudut matanya. Tak pernah ia melihat cahaya lampu berjarak satu sejengkal dengan matanya. Matanya bagai menyerap cahaya itu, tapi tubuhnya terasa semakin lemas. Hingga tiba-tiba dua buah tangan membuka seatbelt-nya dan menariknya dari kursi tempat ia bersandar.
Pemandangan berganti, Bodhi kini melihat lampu-lampu jalan, lampu jalan layang, lampu gedung-gedung. Tubuh lemah Bodhi terbaring di aspal dengan kepala bersandar pada pangkuan seorang gadis yang berulangkali menolaknya. Gadis bernama Aurora liefhebben, yang kini tengah bersimpuh di tengah perempatan kuningan itu. Menangis.
Aurora menatap mata Bodhi yang mulai meredup.  Telah lebih dari 7 tahun ia menatap keteguhan hati Bodhi dari cahaya mata itu setiap kali pria ini menyatakan perasaannya. 7 tahun ia menikmati mata itu dan kini untuk pertama kalinya ia melihat mata itu meredup, membawa pergi keteguhan hati Bodhi.
Darah yang mengalir dari kepala Bodhi terbercak di baju putih milik Aurora, membekas di jantungnya.
Sebuah monumen telah berdiri di jiwa gadis ini.
23.50
“Aku tidak pernah menyukaimu” kalimat sederhana dari Aurora itu menolak Bodhi. Menutup ambisi, mengebiri nafsu, sambil memantik sumbu dinamit kesepian di antara mereka. “Kamu Bodhi… pria baik. Tapi bukan untukku.”
“Aurora… saya tidak akan pernah membuatmu menangis.” Paksa Bodhi, kepada gadis yang berada di sampingnya. “Kamu tak perlu memaksaku dengan berjanji”. Gadis ini sadar janji bisa memaksa hati seseorang dan ia cukup pandai untuk menghindarinya. Tapi tiba-tiba Bodhi kembali membuka kalimat “Janjiku adalah monumen. Monumen yang akan terpancang di tengah jalanan kota jiwamu”.
Mereka terdiam seiring suara bersemangat vokalis The Smiths menyanyikan sebuah syair…

Take me out tonight. Take me anywhere, I don’t care I don’t care, I don’t care. 
And in the darkened underpass I thought oh God, my chance has come at last
But then a strange fear gripped me and I just couldn’t ask

And if a double-decker bus crashes into us
To die by your side is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck kills the both of us
To die by your side. Well, the pleasure, the privilege is mine
Oh, there is a light that never goes out”

-the smiths-
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: