Memaafkan diri sendiri

Image

“Sometimes, everybody makes stupid mistakes”

Kemarin kalimat itu diucapkan oleh teman saya di kantor. Saat mendengarnya, saya ingat bahwa beberapa minggu yang lalu ada seseorang yang terpaksa kehilangan pekerjaan (sepertinya) akibat ketidaktegasannya dalam memilih tawaran. Sayangnya lagi, ia telah berkeluarga sehingga kebimbangannya menempatkan banyak hal penting di hidupnya dalam bahaya. 

Kemudian disusul lagi dengan berita paling mengejutkan di awal tahun ini. Seorang teman menjadi pusat berita karena kesalahan yang ia lakukan telah mengakibatkan banyak orang kehilangan nyawanya dan membuat terkejut masyarakat hingga ke level pemerintahan. Tragedi yang seperti tak termaafkan di mata semua orang ini membuat berita di televisi terasa lebih dari sebuah berita buat saya.

Hidup kita bisa berubah karena kesalahan yang kita lakukan. Bahkan seringkali mengorbankan orang lain di sekeliling kita. Kita manusia, makhluk paling sempurna yang mencoba mengambil keputusan di dunia yang tidak sempurna,kita  melakukan kesalahan-kesalahan besar yang hampir atau memang tak termaafkan, mengubah jalan hidup kita dan banyak orang lainnya.

Ketika kita mengetahui keputusan yang kita ambil salah, berakhir melukai diri kita dan orang lain, kita pun menyesal. Beruntunglah jika kesalahan itu termaafkan. Tapi bagaimana jika kesalahan itu tak termaafkan? Tidak ada seorang pun yang mau memaafkan, bahkan diri kita?

Untuk kesalahan yang sepertinya tak termaafkan, seringkali kita begitu menyesal hingga sedikit demi sedikit penyesalan itu menggerogoti semangat hidup, membuat kehidupan kita dan apa yang kita miliki sekarang begitu tidak sempurna. Begitukah cara kita memperlakukan apa yang masih kita miliki?

Hidup selalu berharga. Tapi kekecewaan akan keputusan yang kita ambil sering membuat kita tidak menghargainya. Pada titik inilah biasanya seseorang mulai sibuk untuk mencari kesana kemari demi mengganti apa yang hilang dan bukan memperbaiki diri dan lebih menghargai apa yang mereka punya saat ini.

Kenyataannya, kita selalu ingin memperbaiki kesalahan yang kita buat dan membuat orang lain memaafkan kita, tapi terkadang kita memang tak bisa dimaafkan. Di saat seperti inilah kita harus berhenti mengais masa lalu dan titik balik dari semua ini dimulai ketika kita belajar memaafkan diri kita sendiri.

Kita pasti akan selalu belajar dari kesalahan kita, tapi kita tidak akan benar-benar belajar jika kita belum bisa memaafkan diri kita.

Jadi belajarlah untuk memaafkan diri kita dan kembalilah berjalan dengan menghargai apa yang kita miliki saat ini; keluarga, pacar, teman-teman, Tuhan atau bahkan diri sendiri. Karena apapun dan siapapun yang kita miliki saat ini, hadir untuk mengingatkan bahwa kita akan selalu menjadi lebih baik.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: